Selasa, 04 Oktober 2016

Google Terseret dalam Pusaran Politik Pilgub DKI


Google Terseret dalam Pusaran Politik Pilgub DKI

Berita Islam 24H - Google terseret dalam pusaran politik pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017. Penyebabnya, pernyataan bakal calon gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bahwa sungai bersih di Jakarta merupakan hasil kerja gubernur DKI sebelumnya, yakni Fauzi Bowo (Foke).

Calon petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menanggapi pernyataan Anies. Ahok bilang, Anies kemungkinan tidak mengetahui data. Bahkan, Ahok membawa-bawa mesin pencari Google.

"Sebenarnya Pak Anies kalau mau lebih rajin, cari di Google saja. Ada orang kirim ke saya, kan iseng gitu ya 'sungai bersih karena Foke' langsung bawahnya ada tulisan 'Did you mean sungai bersih karena Ahok?' Itu Google gitu lho," ujar Ahok di Balai Kota, kemarin.

Pernyataan Ahok itu memicu perdebatan di dunia maya. Netizen berbondong-bondong mencobe mengetik 'sungai bersih karena Foke' di mesin pencari google. Hasilnya, benar kata Ahok, ada tulisan, Did You Mean sungai bersih karena Ahok?.

Menurut pengamat telematika Heru Sutadi, kata Did You Mean hanyalah rekomendasi dari Google. "Sebelumnya banyak pencarian tentang 'Bersih karena Foke atau Ahok' dan itu masuk ke dalam mesin pencari Google, makanya ada kata Did You Mean sungai bersih karena Ahok," kata Heru kepada Rimanews.

Begitupula ketika, seseorang mencari kata "toilet bersih karena Foke", maka akan muncul rekomendasi Toilet bersih karena Ahok. "Kata kuncinya yang terekam Google adalah bersih karena, Ahok atau Foke. Google melakukan crawling. Algoritmanya seperti itu," ungkap Heru.

Crawling adalah mencari dan mencatat aneka situs web dengan program khusus bernama Googlebot, juga dikenal dengan sebutan robot, bot, atau spider. Biasanya mesin crawling Google butuh waktu beberapa lama sebelum menemukan situs web baru. Laman-laman web yang telah di-crawling kemudian diatur melalui proses indexing. Setelah crawling dan indexing inilah, Google kemudian menyediakan hasil search kepada penggunanya.

Pendiri Awesometrics, perusahaan data internet, Ismail Fahmi melalui akun Faceboknya memberikan penjelasan yang lebih rinci terkait hal ini.

Begini, kata Ismail Fahmi, coba cari "sungai bersih karena Foke", maka Google akan menyarankan, "Did you mean: sungai bersih karena Ahok?

Tapi, coba saja ganti "sungai" dengan subyek-subyek lain, seperti istana, mecca, rumahku, bahkan pluto. Hasilnya sama, Google akan ngasih saran: Did you mean: XXXX bersih karena ahok.

Bagaimana sih algoritma Google "Did you mean" ini bekerja? Ini bukan karena kemiripan kata, yang bisa diukur dengan algoritma Lavensthein Distance. Google menggunakan Statistical Machine Learning

"Jadi, itu tergantung dari query yang diajukan oleh orang-orang sebelumnya, yang memiliki kemiripan, dan yang menghasilkan results yang mirip. Semakin sering orang tanya sebuah query, maka itu akan dijadikan rekomendasi oleh Google," ungkapnya.

Jadi, menurut Ismail Fahmi rekomendasi Google itu bukan fakta.

Perwakilan Google Indonesia kepada Rimanews, menyatakan Google tidak pernah memprioritaskan satu search term over another. Google Autocomplete juga didesain fokus pada rank algoritma mesin Google, bukan manual. Google Autocomplete keluar berdasarkan beberapa faktor, salah satunya adalah popularitas dari search term itu sendiri dan freshness, maka hasil autocomplete bisa berubah-ubah seiring waktu.

Dalam kasus Ahok, kata perwakilan Google Indonesia, mungkin disebabkan pencarian orang seputar sungai bersih terkait dengan Ahok, berdasarkan pemberitaan media, misalnya, dan bukan Foke. "Maka Algoritma Google pun 'belajar' kalau sungai bersih terkait Ahok, bukan Foke. "Google Autocomplete didesain untuk memberikan pengalaman searching yang mampu memberi saran dengan lebih tepat dan sesuai konteks untuk pengguna," ujar perwakilan Google Indonesia.

Netral di Pilpres 2014

Terseretnya Google dalam politik tanah air bukanlah kali pertama. Pada 2014, Google juga sempat terseret panasnya suhu politik pemilihan presiden.

Iklan kampanye hitam yang mendiskreditkan salah satu capres bergerilya di sejumlah website. Banner tersebut menempati lokasi yang seharusnya ditempati AdSense.

Google langsung bereaksi dan menyatakan netral terhadap politik di Indonesia. Bahkan, Google melarang iklan politik pada Adsense.

"Google merupakan platform yang netral secara politik. Seperti yang telah disebutkan dalam kebijakan kami, kami tidak mengizinkan iklan politik di Indonesia," demikian penjelasan Google, Juli 2014.

Google memastikan iklan apapun yang mengandung unsur politik di dalamnya akan langsung dihapus tanpa konfirmasi ke pemasang iklan.

Sikap tegas ini disampaikannya beberapa saat setelah ramainya pemberitaan mengenai kampanye hitam melalui ‘ruang’ Adsense.

"Bila kami mengetahui adanya iklan yang melanggar kebijakan ini, kami akan segera menghapus iklan tersebut," tegas Google.

Google menegaskan, tidak pernah ikut campur dalam politik suatu negara.

Dalam buku, "Kisah Sukses Google" karya David A Vise dan Mark Malseed, pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page menyatakan, hasil pencarian google sangat objektif.

"Hasil pencarian kami merupakan yang terbaik dari yang mampu kami buat. Kami tidak menerima pembayaran untuk menggunakannya, untuk memuat sesuatu atau memperbaruinya secara lebih sering. Kami juga menampilkan iklan, yang melalui kerja keras kami usahakan tampil sesuai dengan hasil pencarian, dan kami memberinya label dengan jelas. ini serupa dengan surat kabar yang sudah mapan, dengan iklan-iklan yang jelas dan artikel-artikel yang tidak dipengaruhi oleh besarnya bayaran." [beritaislam24h.com / rnc]
Share:

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © mlbcardvalue.com | Powered by Blogger

Design by ThemePacific | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com